Senin, 31 Januari 2011

SARASATE Formation

Sarasate Formation !!!

Nama : Sarasate
Class : Minstreal
Skill : - Salvation (Menyembukan merc yang mirip dengan blessing milik shaman tetapi dalam satu garis lurus atau kolom bukan baris)
- Hallucination (Memberikan effect halusinasi dan membuat lawan kehilangan turn berikutnya)
- Seal Power Saw (Mengurangi damage senjata Power Saw dan mengsilence juga memberikan damage)
Attack : Range attack menyerang merc diposisi mana saja dan memberikan damage ke merc di belakangnya (Seperti archer dengan effect attack spear)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 1

Formasi sara dengan stuner build yang sangat baik, tapi sayang tanpa kehadiran viking membuat formasi ini tidak memiliki stoper yang baik, meski shaman absen tapi skill salvation dari sara dapat menutupi kekurangan tersebut, sayang formasi ini rentan terhadap stun dan freeze dengan absennya monk, tanker bagian depan tengah juga sangat lemah memberikan celah bagi viking lawan untuk freeze bagian tengah sara, dan bila hal itu terjadi maka sara akan kehilangan kemampuan tempurnya lebih dari 80%, sara sendiri tidak memiliki support terhadap snipe.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 2
salah satu formasi dengan asas keseimbangan, tanker bagian depan cukup baik kecuali spear, meski begitu dengan hadirnya salvation sara dan heal dari shaman membuat hal tersebut bisa tertutupi, bagian belakang juga akan memberikan kontribusi stun yang cukup lumayan, dan bila shaman cast brutal ke belakang maka stun dari formasi ini akan lebih optimal lagi, karena sara akan menembak ketimbang cast speel seperti kebiasaannya, yah tembakan sara sangat unik sebagai instrument memberikan kesempatan stun yang cukup besar, sayangnya formasi ini sangat lemah sekali terhadap formasi snipe dan stun dari lawan, bahkan formasi ini dapat kalah telak bila melawan formasi-formasi seperti itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 3
Formasi sara dengan tanker yang buruk, formasi ini tidak memiliki stuner dan stoper hal ini menjadikan formasi ini sangat lemah, kemampuan tempur formasi ini juga buruk bahkan teramat sangat buruk, meskipun formasi ini memiliki support yang baik tapi tetap dengan lemahnya kemampuan tempur dari sara membuat formasi ini dapat kalah dengan mudah bahkan oleh formasi yang buruk sekalipun.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 4
formasi sara dengan full stoper, duet viking pada barisan tengah menjadikan formasi ini sebagai formasi dengan stoper yang baik, belum lagi dengan lightning spear dari tanker bagian depan, formasi ini jg sangat kuat menghadapi formasi lawan dengan kebanyakan melee dan memiliki tanker yang lemah, karena tanker seperti viking atau spear dapat dengan mudah tembus oleh formasi ini, meskipun shaman absen tetapi salvation dari sara sendiri sudah cukup baik untuk mensupport pasukannya, sayang formasi ini sangat rentan terhadap stun dan snipe, bahkan formasi snipe bila mengincar sara langsung dapat menang telak dan mudah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 5
Formasi sara dengan stoper dan stuner yang sangat baik, kehadiran monk jg membuat formasi ini kuat terhadap stun dan freeze dari formasi lawan, yah meskipun tanker bagian depan kurang kuat tapi bila formasi ini bermain cepat dan membunuh satu persatu merc lawan dapat dipastikan formasi ini menang, tapi bila formasi ini tidak bermain fokus untuk menyerang satu merc maka formasi ini dapat dengan mudah runtuh, tanker bagian depan tidak bertahan lama dan sara sendiri lemah terhadap snipe begitu juga dengan gunner di bagian tengah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
SARA SECARA KESELURUHAN KURANG BAIK UNTUK MENJADI HITTER, DIA LEBIH KEPADA CASTER DAN MENYUPORT ATAU MENJADI STOPER UNTUK MELAWAN MUSUH-MUSUHNYA, SARA MEMILIKI DAMAGE YANG KECIL DAN HP YANG SEDIKIT, SECARA KESELURUHAN SARA JUGA JARANG SEKALI MENANG, KARENA HAMPIR SETIAP WAKTU SARA KALAH KETIKA MELAWAN FORMASI YANG MEMILIKI SNIPER DALAM FORMASINYA.

ALKINARPAY Formation

Alkinarpay Formation !!!

Nama : Alkirnapay
Class : Witch
Skill : - Meteor (Menyerang seluruh merc dan main char dalam formasi dengan meteor dan memberikan damage yang sangat besar)
- Mana Burn (Menghilangkan Magic point musuh dan memberikan damage sesuai dengan magic point yang hilang, effect dalam satu baris)
Attack : range attack ke 1 target paling depan (Seperti shaman dan monk)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 1
Formasi alkir dengan stuner build dan stoper dengan cara menguras AP lawan, sayang spear sebagai tanker sangatlah kurang kuat meski ada shaman untuk menjadi support, arti di tengah memiliki kesempatan stun yang baik untuk formasi lawan, yah dengan meteor dan stuner formasi ini sangat baik untuk menghancurkan lawan yang memiliki formasi yang sangat rapat tapi sayang shaman terkadang brutal will ke alkir menjadikan formasi ini dapat hancur dengan mudah, tapi jika arti yang di brutal will maka formasi ini memiliki kemungkinan menang yang besar
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 2
Formasi alkir dengan tanker dan stoper yang lebih baik, tapi bagian tengah tidak jelas apakah menjadi stuner atau hitter, dan di sayangkan juga meski memiliki shaman tapi bila shaman cast brutal will ke bagian mana pun tetap menjadi pilihan yang buruk. yah salah satu formasi yang jarang menang arena.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 3
Formasi terburuk alkir, dengan formasi ini meskipun viking terlindungi dan dapat cast freezing axe dengan baik tapi tetap tanker bagian depan sangat lemah dan bila brutal will di pasangkan ke bagian mana pun akan menjadi malapetaka, bagian depan Lightning hilang, tengah freeze apalagi belakang yah pilihan yang sangat buruk sekali.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 4
Best formation dari alkir, tanker depan sangat keras dan memiliki stoper freeze yang baik, meskipun support shaman healnya hilang tapi resiko terkena brutal will salah sasaran akan hilang, justru di ganti dengan kehadiran monk SoP menjadikan formasi ini sangat kuat akan stun dan freeze belum lagi alkir menjadi tahan dengan snipe dan bagian tengah memberikan support stun yang baik, bila alkir AI bermain bagus maka magic meteor akan menjadi tambahan yang sempurna untuk formasi ini, tapi tetap ini adalah formasi yang lemah terhadap snipe, khususnya archer, baik monk alkir dan arti sangat lemah terhadap serangan snipe dari lawan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
PADA DASARNYA MAGIC METEOR DARI ALKIR ADALAH MAGIC YANG SANGAT SAKIT DAN MEMBERIKAN DAMAGE KE SEMUA PASUKAN LAWAN, SAYANG AP YANG DIGUNAKAN SANGAT TINGGI MEMBUAT ALKIR AKAN ABSEN UNTUK BEBERAPA TURN, ALKIR JUGA SALAH SATU GLADIATOR YANG JARANG ORANG PILIH, TENTU SAJA DENGAN FORMASI-FORMASI SEPERTI ITU ALKIR GAMPANG UNTUK DI KALAHKAN, TAPI SE KALINYA FORMASI INI SUKSES MASUK FINAL ATAU MENANG MAKA DIVIDENNYA AKAN SANGAT TINGGI, MEMBERIKAN GOLD YANG SANGAT BANYAK MESKI KITA BERTARUH SEDIKIT, TAPI TETAP ALKIR SANGAT JARANG SEKALI SEPERTI ITU.

RAPHAEL

Raphael Formation !!!

Nama : Raphael
Class : Exorcist
Skill : - Mana Seal (Menyebabkan semua merc tipe magic tidak dapat menggunakan skill/magic dan memberikan damage dalam jumlah kecil per turn)
- Seal Staff (Mengurangi damage dari merc yang menggunakan senjata staff)
- Mana Burn (Membakar mana merc dalam satu baris dan memberikan damage sesuai mana
yang hilang)
-Speed Cast (Menambah AP merc tipe magic setiap turn, membuat merc tipe magic lebih gampang mendapatkan turn dan cast magic)
Attack : Melee attack menyerang 1 lawan di posisi paling depan (Seperti Swordsmen)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 1

Formasi raphael dengan adopsi stun dan freeze juga AP drain, yah formasi yang cukup baik sebagai pembunuh formasi rapat dan tidak memiliki stoper, sayang formasi ini tidak memiliki support yang baik, raphael sebagai exo tidak memiliki skill dan kemampuan tempur yang baik bila tidak dalam pengaruh brutal will, sehingga semua tergantung merc yang raphael bawa, dan bila merc rap jatuh satu persatu atau bahkan terkena stun dan freeze maka tamat lah riwayat raphael, tapi bila menghadapi musuh tanpa stoper dan AP drain formasi ini memiliki kemungkinan menang yang cukup tinggi.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 2
Formasi rap dengan 2 shaman sebagai full support untuk membuat semua barisan dan kolom tetap hidup, shaman mendapatkan full support dari rap dengan speed cast membuat shaman mendapatkan giliran yang sering dan dapat menyuport lebih baik, ITU BILA AI SHAMAN BEKERJA BAIK DAN CAST HEAL SETIAP ADA KESEMPATAN, tapi bila shaman bermain brutal apa lagi ke bagian tengah dan belakang sekaligus maka mimpi buruk telah datang, menjadikan support shaman hilang meski menambah daya tempur rap, tapi bila musuh memiliki stoper freeze dan stun maka formasi ini dapat hancur dalam sekejap.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 3
Formasi yang buruk dari rap, absennya stun dan freeze juga AP drain dari formasi ini membuat formasi ini rapuh, meski memiliki support shaman tapi formasi ini tetap lemah terhadap formasi musuh apapun yang notabenenya memiliki setidaknya stun, freeze atau AP drain dalam formasinya, formasi ini juga sangat lemah terhadap snipe meski rap sendiri cukup tahan dengan snipe tapi merc bagian tengah dan shamannya adalah sasaran empuk untuk snipe.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 4
Formasi rap dengan asas keseimbangan, tanker bagian depan bila mendapatkan support yang baik dari shaman dan monk maka dapat hidup jauh lebih lama, sayang bagian tengah di isi oleh archer bukan gunner atau arty membuat formasi ini tidak memiliki daya tempur dan stuner yang baik, satu-satunya kemampuan baik yang dimiliki formasi ini ada pada freeze viking, meskipun spear hadir tapi spear solo tidak lah optimal dalam menyedot AP lawan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Formasi 5
Formasi rap dengan freeze dan AP drain yang dahsyat, bila shaman bermain brutal ke depan dan bermain heal dengan baik maka bisa membuat formasi ini menjadi formasi yang menghancurkan formasi-formasi andalan dengan baik, pernah formasi guan chang triple napo tumbang di hadapan formasi ini menjadikan banyak orang merugi, yah formasi rap yang tergantung AI tapi bila memang AI formasi ini bermain dengan baik bisa menjadi formasi penghancur formasi lawan yang tidak memiliki viking dalam formasinya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
RAPHAEL SEBAGAI EXORCIST MEMILIKI SUPPORT YANG BAIK BAGI MERC MAGIC YANG DIA BAWA, TAPI SAYANG RAP SENDIRI MEMILIKI KEMAMPUAN TEMPUR YANG RENDAH DAN TIDAK MEMILIKI KEMAMPUAN ISTIMEWA LAINNYA YANG DAPAT MEMBUAT KEHADIRANNYA SANGAT TERASA, SECARA KESELURUHAN RAP ADALAH TIPE GLADIATOR YANG 100% TERGANTUNG DARI MERC YANG DIA BAWA.

Senin, 16 November 2009

SASTRA DAN MASYARAKAT

      1. Hubungan

Pada umumnya, pengarang juga merupakan warga masyarakat dimana ia berdomisili. Banyak karya-karya sastra yang menngungkapkan perasaan masyarakat. Hubungan sastra dengan masyarakat lebih bersifat deskriptif, simbolik, dan bermakna.


      1. Konsep

Sastra merupakan institusi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik sastra seperti pada sastra tradisional yaitu simbolisme dan mantra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Kehidupan ini sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun kadang karya sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia. Penyair merupakan warga masyarakat yang memiliki status khusus. Penyair mendapatkan pengakuan dan penghargaan masyarakat dan mempunyai massa walaupun secara teoritis. Dari aktifitas manusia yang saling berkaitan inilah dapat dilihat hubungan antara cara produksi dengan sastra.


3. Ciri-ciri

  1. Sastra dipelajari sebagai dokumen sosial dan potret kenyataan sosial sebagai suatu pendekatan.

  2. Sastra terjadi dalam konteks sosial.

  3. Sastra mencerminkan dan mengekspresikan kehidupan bermasyarakat.

  4. Sastra hanya berkaitan secara tidak langsung dengan situasi ekonomi, politik, sosial yang konkret.

  5. Memakai istilah-istilah yang mengacu pada integrasi sistem budaya dan keterkaitan antara berbagai aktivitas manusia.

  6. Aktifitas, pernyataan dan keputusan dalam hidup pengarang tidak boleh dicampuradukkan dengan implikasi sosial karya mereka.




    1. Manfaat

  1. Menunjukkan apa peran kelompok-kelompok dalam masyarakat terhadap sastra.

  2. Mendikte kaitan dan dampak yang seharusnya ada.

  3. Membuat pengkhususan dan klasifikasi.

  4. Mengetahui bagaimana cerminan proses sosial.

  5. Sebagai dokumen sosial yang dipakai untuk mengutaikan ikhtisar sejarah sosial.


    1. Tokoh

  1. P.N. Sakulin

Yang membahas sastra Rusia berdasarkan perbedaan yang teliti antara sastra petani, kaum borjuis, alangan intelek demokratis, dan kelompok-kelompok lain termasuk kelas proletar yang revolusioner.

  1. Tomars

Memformulasikan tentang permasalahan studi sastra yang menyiratkan atau merupakan masalah sosial.

  1. Ashley Thomdikc

Yang menegaskan tentang konsep cetakan abad ke sembilan dengan menonjolnya spesialisasi.

  1. Kohn-Bramsdedt

Mengungkapkan tentang pengetahuan struktur masyarakat yang dapat menyelidiki reproduksi sosial dalam karya sastra.

  1. Eidinburg dan Quarterly

Membantu sastra menjadi institusi yang mandiri dengan munculnya resensi buku hasil karya mereka.

  1. Scoot dab Byron

Mempengaruhi selera dan opini masyarakat pada abad ke-19.





    1. Contoh

Didalam Roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli muncul adat Minangkabau yang sangat kuat. Suatu adat yang tidak bisa dilupakan oleh Samsul Bahri walaupun ia harus menempuh pendidikan di luar pulau. Selain hal diatas, dalam Roman Siti Nurbaya juga terdapat stratifikasi sosial. Kekuasaan diktator para penjajah membuat rakyat biasa menjadi tertekan dalam kesehariannya.

SASTRA DAN PEMIKIRAN

    1. Hubungan

Sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat atau sebagai pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Jadi, sastra dianalisis untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran hebat. Sampai sekarang, karya sastra masih sering dibahas sebagai karya filsafat.


    1. Konsep

Pada masa lalu banyak studi sastra yang menerapkan metode diatas secara berlebihan. Ulcirici misalnya meringkas inti drama Merchant of Venice menjadi Summum Jus Sunma Injuria. Meskipun sekarang ilmuwan telah jenuh mengorek hal-hal ilmiah dari karya sastra. walaupun demikian hal di atas membuat pemahaman kita terhadap keunikan karya sastra akan kacau kalu kita meringkas karya sastra menjadi pernyataan-perntaan doktrin.

Karya sastra memang bisa dianggap sebagai dokumen sejarah pemikiran dan filsafat, karena sejarah sastra sejajar dan mencerminkan sejarah pemikiran. Secara langsung atau melalui alusi-alusi dalam karyanya. Terkadang pengarang menyatakan bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham yang dominan pada zamannya, atau setidaknya mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut. Pada hakekatnya, sastra sendiri mempunyai aliran-aliran yang dibangun dari pemikiran-pemikiran tertentu. Maka dari itu, sastra dan pemikiran membangun suatu keterkaitan.

Beberapa puluh tahun yang lalu para filsafat seperti Lovejoy membuat teori tentang sejarah pemikiran, teori yang kemungkinan terdapat perbedaan unsur filsafat dengan karya sastra. Kemudian Dilthey melihat adanya tiga tipe dalam sejarah pemikiran pertama, positivisme yang berasal dari pemikiran Democritus. Kedua, idealisme objektif dan yang ketiga adalah idealisme dualistik. Dengan adanya teori tentang sejarah pemikiran tersebut secara tidak langsung dapat membantu pemahaman sastra.



    1. Ciri-Ciri

      1. Dibuktikan atas dasar penelitian tentang ideolodi sastra.

      2. Sastrawan seringkali mempunyai afiliasi sosial dan latar sosial yang berbeda dengan filsuf.

      3. Seringkali dianut oleh kelas tertentu yang merupakan kelas sastrawan.

      4. Hubungan yang padu diperkuat dengan penciptaan karya sastra yang sebenarnya.

      5. Sastra bukan dinilai sebagai pengganti filsafat.


    1. Manfaat

  1. Sejarah pemikiran secara tidak langsung dapat membantu memperdalam pemahaman karya sastra.

  2. Memperluas khasanah filosofis dalam kaitannya dengan suatu karya sastra.

  3. Dalam konteks tertentu dapat menambah nilai artistik karya sastra karena mendukung beberapa nilai artistik penting.


    1. Tokoh

  1. Dilthey

Membedakan pemikiran-pemikiran dan pengalaman dalam menyusun sejarah sastra.

  1. Lovejoy

Mengungkapkan perbedaan metodenya dengan sejarah filsafat.

  1. Rudolf Unger

Yang menyatakan bahwa sastra bukanlah filsafat yang diterjemahkan, tapi ekspresi suatu bentuk sikap.

  1. Leo Spitzer

Menolak berbagai aspek teori Lovejoy.






    1. Contoh

Gabungan puisi dan fisafat terlihat pada karya penyair-penyair pemikir seperti Empocles di Yunani pada masa sebelum Socrates, dan pada zaman Renaisans ketika Ficiano atau Giardano Bruno menulis puisi dan filsafat. Filsafat yang puitik atau puisi filosofis. Atau puisi romantik Inggris yang berkembang pada saat filsafat Inggris dan Skotlandia didominasi oleh filsafat.

SASTRA DAN BIOGRAFI

  1. Hubungan

Pengarang merupakan sebab utama lahirnya suatu karya sastra. Oleh sebab itu, penjelasan tentang kepribadian dan kehidupan pengarang dalam kajian teori sastra sangatlah penting karena sudah menjadi suatu metode yang sangat mapan. Adanya biografi pengarang dapat memberi masukan tentang penciptaan karya sastra.


  1. Konsep

Biografi adalah genre yang sangat kuno. Awalnya biografi masuk dalam bagian historiografi, tetapi setelah pendapat Coleridge muncul biografi mulai terpisah dari historiografi. Biografi tidak hanya bernilai memberikan masukan tentang penciptaan karya sastra, tetapi biografi juga dapat dinikmati karena mempelajari hidup pengarang yang jenius, menelusuri perkembangan moral, mental dan, intelektualnya. Biografi merupakan penjelasan tentang kepribadian dan kehidupan pengarang yang mengaburkan pemahaman proses sastra, karena tradisi sastra dipecah-pecah menjadi sejumlah siklus hidup pengarang. Pada masa yang lalu, para penyusun biografi kesulitan mencari jejak kehidupan para pengarang karena minimnya bukti yang ada. Tetapi saat ini bukti biografis penyair sangat banyak. Pengarang biografi saat ini dengan sengaja meninggalkan pernyataan-pertanyaan otobiografis, sehingga kerja dalam penyusunan biografi menjadi lebih mudah. Penyusunan biografi ini yaitu bisa dengan menginterpretasikan dokumen, surat, laporan, saksi mata, ingatan, dan pernyataan otobiografis yang asli dan dapat dipercaya.

Ada dua pertayaan yang harus dijawab dalam pembuatan biografi pengarang. Yang pertama, sejauh mana penyusun biografi tersebut dapat memanfaatkan karya sastra sebagai bahan atau pembuktian? Kedua. Sejauh mana biografi itu relevan dan penting untuk memahami karya sastra.



  1. Ciri-ciri

    1. Tidak membedakan profesi seperti negarawan, jenderal, arsitek, ahli hukum, dan penganggur. Pengarang dianggap sebagai orang biasa yang memiliki perkembangan moral, intelektual, karir, dan emosi yang bisa direkonstruksi dan dinilai berdasarkan standar tertentu (sistem nilai etika dan norma-norma perilaku tertentu).

    2. Memberi masukan tentang penciptaan karya sastra.

    3. Bentuknya fakta.

    4. Mempelajari hidup pengarang yang jenius, menelusuri perkembangan moral, mental dan intelektualnya yang menarik.

    5. Pernyataan yang bersifat otobiografis dengan penggunaan motif yang sama pada karya sastra belum tentu nerkaitan secara langsung. Perlu adanya penginterpretasian yang lebih dalam.

    6. Biografi tidak dapat menambah atau mempengaruhi penilaian kritik sastra.


  1. Manfaat

    1. Untuk menjelaskan makna alusi dan kata-kata yang dipakai dalam karya sastra.

    2. Membantu kita mempelajari masalah pertumbuhan, kedewasaan, dan merosotnya kreativitas pengarang.

    3. Menjelaskan tradisi yang berlaku di daerah pengarang serta pengaruh yang didapatkan sebagai bahan-bahan yang dipakainya dalam karya sastra.

    4. Menerangkan dan menjelaskan proses penciptaan karya sastra yang sebenarnya.

    5. Mengumpulkan bahan untuk menjawab masalah sejarah sastra.


  1. Tokoh

    1. G.W. Meyer

Yang menunjukkan bahwa apa yang bersifat otobiografis dalam suatu karya sastra belum tentu sama persis dengan kehidupan pengarang yang sebenarnya.


  1. Coleridge

Tokoh yang mengemukakan pendapat bahwa setiap kehidupan walaupun tidak ada artinya bila diceritakan secara jujur, pasti akan menarik.

  1. Caroline Surgeon

Peneliti mencritaan Shakespeare. Dari penuturan ini diketahui bahwa ada sejumlah daftar yang kurang berarti.

  1. T.S. Eliot dan Keats

Penyair yang menekankan negatif capibility (kemampuan membuat negasi), keterbukaan pada dunia, dan penghilangan diri pengarang.



  1. Contoh

Dari beberapa karya Shakespeare sepertinya tampak kegembiraan ketika menulis drama komedi. Tetapi kita tidak dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya, apakah Shakespeare terdapat raut kesedihan di wajahnya atau tidak. Ini disebabkan karena jejak kehidupan pribadi Shakespeare yang sulit ditelusuri. Maka daripada itu pentingnya sebuah hubungan antara biografi dengan sastra agar kita mengetahui pribadi pengarang sewaktu menciptakan hasil karya sastranya.


TEORI OBJEKTIF

1. Pengertian

Hakikat karya sastra adalah perpaduan antara hasil imajinasi seorang sastrawan dengan kehidupan secara faktual. Hasil rekaan manusia itu lebih tinggi nilainya dari kenyataan, karena sastrawan tidak begitu saja meniru atau meneladani kenyataan. Oleh karena itu, dalam memahami karya sastra hendaknya pembaca mengenal berbagai macam teori, yang salah satunya berupa teori objektif yang akan kita bahas di bawah ini.

Teori objektif merupakan teori sastra yang memandang karya sastra sebagai dunia otonom, sebuah dunia yang dapat melepaskan diri dari siapa pengarangnya, dan lingkungan sosial budayanya. Karya sastra harus dilihat sebagai objek yang mandiri dan menonjolkan karya sastra sebagai struktur verbal yang otonom dengan koherensi intern. Dalam teori ini terjalin secara jelas antara konsep-konsep kebahasaan (linguistik) dengan pengkajian karya sastra itu sendiri, baik secara metaforis maupun secara elektis. Istilah lain dari teori objektif adalah teori struktural.


2. Ciri-ciri

Ciri-ciri yang terdapat dalam teori objektif adalah:

  1. Teori objektif memandang karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

  2. Menghubungkan konsep-konsep kebahasaan (linguistik) dalam mengkaji suatu karya sastra.

  3. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku.

  4. Penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan kaharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya.

  5. Struktur tidak hanya hadir melalui kata dan bahasa, melainkan dapat dikaji berdasarkan unsur-unsur pembentuknya seperti tema, plot, karakter, setting, point of view.

  6. Untuk mengetahui keseluruhan makna dalam karya sastra, maka unsur-unsur pembentuknya harus dihubungkan satu sama lain.


3. Metodologi

Dalam memahami karya sastra secara objektif, tentunya diperlukan adanya cara untuk mengoperasikan teori itu. Dalam teori ini, terdapat pula pendekatan dan penilaian secara objektif.

Pendekatan objektif (pendekatan struktural) adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan, dan memandang karya sastra adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku. Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek intrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan kaharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya.

Telaah struktur yang harus dikaitkan dengan fungsi struktur lainnya yang dapat berupa pararelisme, pertentangan, inverse, dan kesetaraan. Dalam karya yang lebih luas seperti novel, struktur tidak hanya hadir melalui kata dan bahasa, melainkan dapat dikaji berdasarkan unsur-unsur pembentuknya seperti tema, plot, karakter, setting, point of view. Untuk mengetahui keseluruhan makna, maka unsur-unsur tersebut harus dihubungkan satu sama lain.

Penilaian objektif berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif). Kriteria utama dalam memberikan penilaian secara objektif itu, menurut Graham Hough dan Wellek Warren adalah pada adanya :

  1. Relevansi nilai-nilai eksistensi manusia yang terpapar melalui jalan seni, imajinasi maupun rekaan yang keseluruhannya memiliki kasatuan yang utuh, selaras, serta padu dalam pencapaian tujuan tertentu atau memiliki integritas, harmony, dan unity.

  2. Daya ungkap, keluasan, serta daya pukau yang disajikan lewat texture serta penataan unsur-unsur kebahasaan maupun struktur verbalnya atau pada adanya consonantia dan klantas.

Dari adanya sejumlah kriteria di atas memang pada dasarnya seseorang dengan mudah dapat menentukan bahwa sebuah bacaan itu adalah teks sastra. Akan tetapi, satu hal yang harus diingat, bacaan berupa teks sastra itu tidak selamanya mengandung nilai-nilai sastra.

Ada tiga paham tentang penilaian terhadap karya sastra secara objektif, yaitu paham relativisme, absolutisme, dan perspektivisme. Penilaian relativisme menyatakan bahwa bila sebuah karya sastra dianggap bernilai pada suatu waktu dan tempat tertentu, pada waktu dan tempat yang lain juga harus dianggap bernilai. Penilaian absolutisme menyatakan bahwa penilaian karya sastra harus didasarkan pada ukuran dogmatis. Sedangkan penilaian perspektivisme menyatakan bahwa penilaian karya sastra harus dilakukan dari berbagai sudut pandang sejak karya sastra itu tercipta (terbit) sampai sekarang (Pradopo, 1997: 49-51).


4. Sejarah

Teori objektif yang di dalamnya terdapat pendekatan struktur (pendekatan objektif= strukturalisme), tidaklah dapat dilepaskan dari peran kaum Formalis. Pendekatan struktur itu sendiri sebenarnya sejak jaman Yunani sudah dikenalkan oleh Aristoteles dengan konsep wholeness, unity, complexity, dan coherence.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa mencuatnya pendekatan struktur tidaklah lepas dari peranan kaum Formalis. Maka, kaum Formalis dipandang sebagai peletak dasar telaah sastra dengan pendekatan ilmu modern. Ciri khas penelitian sastra kaum Formalisme ialah penelitiannya terhadap apa yang merupakan sesuatu yang khas dalam karya sastra yang terdapat dalam teks bersangkutan. Ciri khas penelitiannya terhadap apa yang merupakan sesuatu yang khas dalam karya sastra yang terdapat dalam teks bersangkutan. Dalam hal ini, nilai estetik suatu karya sastra seperti yang dikemukakan oleh tokoh utamanya Jacobson, adalah didasarkan pada poetic function yang diolah berdasarkan kode metrum, rima, macam-macam bentuk paralelisme, pertentangan, kiasan, dan sebagainya. Dengan kata lain, Jacobson merumuskan bahwa karya sastra adalah ungkapan yang terarah pada ragam yang melahirkannya atau fungsi puitik memusatkan perhatiannya pada pesan dan demi pesan itu sendiri.

Dalam hal ini, karya sastra harus dipandang sebagai sebuah struktur yang berfungsi. Sebagai sebuah karya yang bersifat imajinatif, bisa saja hubungan penanda dan petanda merupakan suatu hubungan yang kompleks. Dalam karya yang lebih luas, misalnya saja novel, stuktur tidak hanya hadir melalui kata dan bahasa, melainkan dapat dikaji berdasarkan unsur-unsur pembentuknya seperti tema, plot, karakter, seting, point of view, dan lainnya. Untuk mengetahui keseluruhan makna, maka unsur-unsur tersebut harus dihubungkan satu sama lain. Apakah struktur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, saling mengikat, saling menopang yang kesemuanya memberikan nilai kesastraan tinggi. Telaah semacam inilah yang ditekankan oleh kaum strukturalisme.


5. Tokoh dan Konsep

1) Aristoteles

Telah diperkenalkan oleh Aristoteles dengan konsep wholeness, unity, complexity, dan coherence. Suatu penilaian dikatakan objektif bila penilaian itu bertolak dari suatu nilai atau konvensi yang terlepas dari segi pembaca. Sehingga, nilai itu adalah nilai yang ada dalam teks sastra, dan bukan nilai yang ada dalam opini pembaca itu sendiri.

2) Taine

Menurut Taine, sastra tidak hanya sekedar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, melainkan dapat pula merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu dilahirkan.

3) Jacobson

Jacabson merumuskan bahwa karya sastra adalah ungkapan yang terarah pada ragam yang melahirkannya atau fungsi puitik memusatkan perhatiannya pada pesan dan demi pesan itu sendiri.

4) Ferdinand de Saussure

Pendekatan struktur secara langsung atau tidak langsung sebenarnya banyak dipengaruhi oleh konsep struktur linguistik yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, yang intinya berkaitan dengan konsep sign dan meaning (bentuk dan isi).

5) Luxemburg

Luxemburg memiliki konsep signifiant- signified dan paradigma- syntagma. Pengertiannya adalah tanda atau bentuk bahasa merupakan unsure pemberi arti dan yang diartikan. Dari dua unsur itulah akan dapat dinyatakan sesuatu yang berhubungan dengan realitas. Karena itu, untuk memberi makna atau memahami makna yang tertuang dalam karya sastra, penelaah harus mencarinya berdasarkan telaah struktur, yang dalam hal ini terefleksi melalui unsure bahasa.

6) Terry Eagleton

Mengungkapkan bahwa setiap unit dari struktur yang ada, hanya akan bermakna jika dikaitkan hubungannya dengan struktur lainnya. Hubungan tersebut bisa merupakan hubungan pararelisme, pertentangan, inversi, dan kesetaraan. Yang terpenting adalah bagaimana fungsi hubungan tersebut dalam menghadirkan makna secara keseluruhan.















DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Fananie, Zainuddin. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Santosa, Puji. Pengetahuan dan Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Nusa Indah.










BENTUK SIMBOLIK DALAM PUISI ACEP ZAMZAM NOER

BENTUK SIMBOLIK DALAM PUISI ACEP ZAMZAM NOER

YANG BERJUDUL “ SEPAKBOLA”

Adiel Kundhara (306212403140)


Acep Zamzam Noor telah menghasilkan ribuan sajak yang indah untuk kita pahami. Penggunaan diksi yang tepat dan menarik membuat puisi ini memiliki nilai estetik yang tinggi. Simbol, pilihan kata dan makna merupakan karakter kuat dari Acep Zamzam Noor. ketiga hal tersebut perlu dianalisis untuk mengetahui pesan yang disampaikn oleh pengarang. Sajak sepakbola ini merupakan sajak yang mengusung tema kesedihan ini dapat kita lihat karena adanya lambang dan simbol dari sebuah penderitaan, air mata dan kematian. Inti dari sajak ini ialah perjalanan sang pengarang di hari akhir hidupnya dimana kematian tidak bisa kita helak sebab sudah ada yang mengaturnya.


Kata kunci: simbol, pilihan kata dan makna


Pada tanggal 28 Februari 1960, Indonesia melahirkan seorang sastrawan yang hebat bernama Acep Zamzam Noor. Anak asli Tasikmaya ini menyulap negara kita menjadi negara yang maju dalam bidang seni sastra khususnya. Banyak coretan-coretannya yang telah dimuat di media masa baik dalam negeri maupun luar negeri misalnya Italia.

Selain menulis puisi beliau juga ahli dalam melukis berpameran. Kota Utrech (Belanda) dan Ipoh (Malaysia) membuat namanya semakin berkibar. Prestasi segudang telah diraihnya tentunya dibutuhkan kerja keras supaya karya yang dihasilkan benar-benar maksimal atau memiliki nilai yang tinggi.

Puisi Sepakbola adalah salah satu puisi yang ia ciptakan pada tahun 2005. Di dalam puisi ini terlihat unsur diksi yang paling menonjol. Keindahan perpaduan simbol dan makna menjadikan daya tarik tersendiri pada puisi Acep Zamzam Noor ini. Sehingga saya ingin menganalisnya supaya makna keseluruhan dari puisi ini dapat saya tangkap.

Pilihan kata yang luas tetapi selaras dengan makna sangat berpengaruh penting pada puisi, karena puisi itu besar dari kata. Keindahan dalam suatu karya sastra itu pertama akan terlihat dari permainan kata yang digunakan oleh pengarang atau biasa kita sebut dengan diksi. Semakin luas cakupan dari pilihan kata pengarang akan semakin tinggi pula nilai suatu karya tersebut. Kata disini masuk bagian unsur interistik yang dapat mempercantik bentuk fisik puisi.

Pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraselogi, gaya bahasa, dan ungkapan. Fraselogi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokkan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau yang memiliki nilai artistik tinggi.

Kata-kata yang digunakan dalam puisi bersifat asosiatif. Keterkaitan lambang dan simbol yang digunakan oleh pengarang merupakan keadaan jiwa atau emosi yang dialami oleh sang pengarang tersebut. Diperlukan skemata yang tinggi serta perasaan terjun langsung ke dalam alur puisi itu untuk mengetahui segi makna.

Kita dapat menarik kesimpulan bahwa diksi bertujuan pertama, mencakup pengertian kata-kata mana yang dipkai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi dalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki pembaca. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu.

Sepakbola

Di usianya yang ke-45, lelaki itu menuliskan sejumlah kata

Pada secarik kertas, yang tergantung bimbang

Di rangkaian kembang. ”Aku merindukanmu

Seperti merindukan Inne Ratu, dulu

Ketika seluruh langit masih biru”


Saat itu hampir senja, keloneng becak di simpang tiga

Lampu redup sekitar pos ronda, dan sebuah beringin tua

Runtuh di halaman TK. Lelaki itu memandang ke mulut gang

Ke deretan rumah dan madrasah, hingga sebuah kelokan

Yang telah menyembunyikan seseorang


Di usianya yang ke-45, kata-kata yang pernah dirangkainya

Terus bergema di rongga dada, memukul-mukul iga

Di antara batuk dan asma. ”aku mencintaimu

Seperti mencintai Inne Ratu, dulu

Ketika merasa tak ada masalah dengan waktu”


Waktu adalah gelanggang olahraga, nampaknya:

Banyak lapangan, banyak permainan, tapi selalu berujung

Pada kalah dan menang. Kemudian lelaki itu berjalan, sendiri

Ke arah stadion, melewati jalan yang remang

Ia bermain sepakbola melawan sepi


Pada awal puisi ini Acep Zamzam Noor menirukan struktur seperti pada fabel atau dongeng, dengan menekankan setting waktu untuk memulai pengungkapan perasaannya. Dimulai dengan suasana hati yang tak bersahabat bimbang, pengarang merasa diakhir masa hidupnya karena telah mempunyai umur yang serasa tahun kemerdekaan bangsanya. Rasa bimbang tersebut dibarengi dengan rangkaian kembang dimana kita ketahui kembang yang juga bersinonim dengan bunga selama ini identik dengan sesuatu yang indah. Tetapi tak kita sadari kembang juga berhubungan dengan suatu kematian. Rangkaian kembang biasanya diberikan oleh orang-orang yang dekat dengan almarhum. sebagai tanda penghormatan terakhir sebelum jenasah dikebumikan.

”Aku merindukanmu

Seperti merindukan Inne Ratu

Sang pengarang merindukan seseorang yang selama ini dekat dengan dia. Ia menggunakan perbandingan antara yang dirindukan oleh pengarang dengan Inne Ratu. Tetapi terdapat kesamaan diantara kedua-duanya. Sayangnya dibelakang dibumbui dengan kata dulu ketika seluruh langit masih biru. Tampak eufimisme hadir dalam sajak ini dari dulu hingga sekarang langit berwarna biru, karena sebelumnya sudah menjurus kearah kematiaan, sehingga Acep menganggap langit sudah berwarna hitam karena ajal tak lama lagi akan datang kepadanya.

Saat itu hampir senja, keloneng becak di simpang tiga

Lampu redup sekitar pos ronda, dan sebuah beringin tua

Runtuh di halaman TK.

Pengarang mencoba mempengaruhi pembaca dengan menekankan segala rentetan kejadian. Pembaca seolah-olah ikut berada di tempat kejadian waktu itu. Lampu redup sekitar pos ronda dilanjutkan dengan sebuah beringin tua runtuh di halaman TK. Bencana telah terjadi, segala masa lalunya telah berakhir hal ini tampak pada penggunaan kata TK. TK yang merupan kependekan dari taman kanak-kanak merupakan cerminan atau potret pengarang saat dia masih kecil hingga dewasa.

Terus bergema di rongga dada, memukul-mukul iga

Di antara batuk dan asma. ”aku mencintaimu

Bait ketiga Acep mencoba memadukan salah satu organ tubuh dengan suatu aktivitas yang dilakukan oleh indera lain. Rongga dada dipadukan dengan suara bergema yang biasanya ditangkap dengan indera pendengar dan iga yang dikaitkan dengan tindakan dari indera peraba yaitu pukulan.

dulu

Ketika merasa tak ada masalah dengan waktu”


Segala musibah yang akan dialaminya sebentar lagi akan terjadi. Batuk dan asma merupakan lambang dari sebuah awal sebab-akibat. Dan pengulangan kata harapan itu hanyalah sebuah pengalihan suasana saja.

Waktu adalah gelanggang olahraga, nampaknya:

Banyak lapangan, banyak permainan, tapi selalu berujung

Pada kalah dan menang. Kemudian lelaki itu berjalan, sendiri

Ke arah stadion, melewati jalan yang remang

Ia bermain sepakbola melawan sepi


Bait terakhir ini merupakan sebuah plesetan dari pengarang sebagai patokan untuk dijadikan judul. Kadang kita dalam menempuh hidup ini ada susah dan senang. Dua hal yang selalu beriringan dan akan dijumpai oleh manusia. Tak ada sesorang yang hanya menemukan satu diantara kedua hal tersebut dalam kesehariannya. Teman merupakan sesuatu yang indah yang dimiliki oleh pengarang, jikalau kita tanpa orang lain kita tidak bisa hidup.

Didalam filsafat ada filosofi yang berbunyi ada terang ada padam, ada hidup ada kematian. Kematian atau kesedihan merupakan suatu kondisi yang tidak bisa kita pungkiri. Tuhan telah menciptakan sedemikian rupa, bukannya kita lantas memaki Tuhan, tetapi dibalik semua ini ada sesuatu yang indah yang akan diberikan-Nya. Demikianlah pesan yang terkandung dalam sajak Acep Zamzam Noor yang berjudul Sepakbola ini yang bisa saya tangkap.































DAFTAR RUJUKAN


Aminuuddin.1995. Stilistika, Pengantar Memahami Bahasa Dalam Karya Sastra. Semarang : IKIP Semarang Press

Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Muljana, Slamet. 1969. Kaidah Bahasa Indonesia. Ende : Nusa Indah

Ulmann, Stephen. 1981. Semantics: An Introduction to the Science of Meaning. Oxford : Basil Blackwell

Zamzam Noor, Acep. 2007. Menjadi Penyair Lagi. Bandung : Pustaka Azan.

PENERAPAN SOSIOLINGUISTIK

Masalah kebahasaan di Indonesia merupakan masalah yang rumit banyak faktor dan kondisi yang melilit persoalan linguistik. Faktor pertama adalah kemajemukan bangsa yang berarti juga kemajemukan budaya dan bahasa. Ada tiga masalah yang dihadapi dan masing-masing memerlukan kebijakan. Ketiga masalah itu ialah masalah bahasa Indonesia, masalah bahasa daerah , dan masalah bahasa asing. Faktor kedua ialah keberagaman bahasa daerah dalam jumlah yang sangat besar. Indonesia merupakan negara yang dihuni oleh ribuan suku dan budaya, diperkirakan 500 bahasa daerah terdapat di negara kita ini. Oleh karena itu, masalah yang timbul ialah mengenai pembakuan bahasa. Faktor ketiga ialah faktor kontak bahasa. Masalah yang timbul akibat kontak bahasa tersebut yakni masalah timbulnya campur kode dan interferensi. Tampubolon mengemukakan perlu adanya adopsi dan importasi. Adopsi adalah proses pengambilan dan penggunaan kosakata bahasa daerah secara tidak atau kurang beraturan dan tidak sesuai dengan kebutuhan yang wajar sehingga sering membingungkan. Alasan utama mengadakan adopsi dan importasi ialah tidak adanya kosakata yang tepat dalam bahasa bersangkutan untuk menyatakan suatu ide. Sedangkan alasan lain ialah (1) untuk membentuk suatu ragam khusus, (2) untuk tujuan eufimismistis atau gaya topeng. Sedangkan gejala importasi berlebihan ialah proses pemasukan dan penggunaan kosa kata bahasa asing secara tidak atau kurang berlebihan dan tidak sesuai dengan kebutuhan yang wajar, terutama melalui hubungan perdagangan luar negeri, sehingga sering membingungkan. Alasan lain adanya importasi ialah (1) pengaruh hubungan bisnis luar negeri sebagai alasan yang paling kuat dan (2) gengsi sebagai alasan yang kurang kuat. Dampak dari importasi berlebihan ialah alienasi bahasa, kerancuan struktural, dan kerancuan kognitif. Faktor keempat adalah sikap mental anggota masyarakat Indonesia yang negatif. Sikap negatif yang menonjol ialah (1) penggunaan unsur asing yang tidak perlu (2) penggunaan bahasa Indonesia yang menyimpang dari kaidah : kaidah ucapan, kaidah bentukan kata, kaidah bentukan kaliat, kaidah ejaan dan tanda baca.masalah terakhir ialah penggunaan bahasa asing yang terkesan fanatisme berlebihan. Kebijakan bahasa dapat dikatakan sebagai garis haluan yang menjadi dasar dalam perencanaan dan pelaksanaan dalam kegiatan kebahasaan. Kebijakan menganai bahasa nasional dimulai pada sumpah pemuda. Alasan dari kebijakan ini (1) embrio bangsa Indonesia sudah mampu menentukan sikap politik yang penting dalam memikirkan negara (2) penentuan bahasa Indonesia itu menunjukkan wawasan yang luas dan jauh ke depan masyarakat Indonesia, khususnya pemuda dalam memikirkan masa depan bangsa. Fungsi bahasa nasional (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakanh sosial budaya dan bahasa daerah yang berbeda-beda, ddan (4) alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Kebijakan tentang bahasa negara terjadi pada tahun 1945. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, (3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kebijakan tentang bahasa daerah dapat dilihat pada penjelasan UUD 1945 pasal 36. Bahasa daerah berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah. Kebijakan mengenai bahasa asing berfungsi (1) alat perhubungan antarbangsa, (2) alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan (3) alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan nasional. Kebijakan tentang kelembagaan dengan terbentuknya Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa yang bertugas melaksanakan penelitian, pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri pendidikan dan kebudayaan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dibantu oleh UPT yang disebut Balai Bahasa. Kebijakan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat dideskripsikan, bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai kaidah kebahasaan :ucapan, kosakata, gramatika dan ejaan. Sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan konteks penggunaan : partisipan, situasi, media, topik, waktu dan tempat.

Perencanaan bahasa adalah kegiatan politis dan administratif untuk menyelesaikan persoalan bahasa dalam masyarakat. Target terpenting dalam perencanaan bahasa Indonesia ialah pembakuan. Pembakuan adalah Proses pengangkatan satu ragam bahasa menjadi ragam yang diterima secara meluas di kalangan masyarakat bahasa sebagai ragam supradialektal sebagai bentuk “terbaik” di atas dialek-dialek local dan sosial. Bahasa baku perlu memiliki sifat kemantapan dinamis. Fungsi dari bahasa baku yakni fungsi pemersatu, fungsi penanda kepribadian, fungsi penanda tempat tertinggi atau gengsi tertinggi, dan fungsi kerangka acuan atau ukuran untuk menentukan ketepatan penggunaan bahasa. Pengembangan kosakata dapat berupa hilangnya kata dari penggunaan, munculnya kata lama dalam penggunaan baru, munculnya kata dengan makna yang baru, munculnya kata baru, dan munculnya kata dengan bentukan baru. Terdapat empat stategi dalam pemekaran sumber bahasa sendiri yakni pemerian makna baru, terhadap kata yg sudah ada, pengaktifan kembali unsur lama yang sudah mati, penciptaan bentukan baru, dan penciptaan akronim. Pemekaran bahasa yang serumpun memiliki kemudahan karena kesamaan atau kemiripan sistem fonologis, morfologis dan sintaksis. Sedangakan untuk bahasa asing syarat-syarat yang perlu diperhatikan sebagai dasar pemekaran adalah istilah asing lebih cocok karena konotasinya, karena cocok konotasinya, istilah asing memudahkan pengalihan antarbahasa mengingat keperluan masa depan serta memudahkan tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyak sinonimnya. Dari cara membentuk istilah dari bahasa asing, langkah-langkah berikut merupakan urutan, penerjemahan, adaptasi lalu adopsi.

MODEL FUNGSIONAL DALAM SOSIOLINGUISTIK

Sebelum kita mengenal atau mendeskripsikan lebih jauh mengenai model-model yang terdapat dalam sosiolinguistik, hendaknya kita lebih mengerti terlebih dahulu definisi dari model itu sendiri. Model adalah Suatu representasi yang disederhanakan atau diidealkan terhadap sesuatu yang dianggap relevan dari system atau realita yang akan dideskripsikan. Dalam bidang sosial, model terbagi atas (1) model yang melukiskan sifat atau gejala tanpa mendeskripsikan huibungan antargejal tersebut, (2) model yang melukiskan hubungan antargejala. Namun model tersebut juga memiliki beberapa kelemahan, yakni : (1) terlalu banyak memberi tekanan kepada simbol sehingga seringkali tidak dapat menggambarkan suatu gejala dengan akurat, terutama dalam bidang kajian humaniora, (2) terlalu mementingkan bentuk dan keajegan, simplifikasi, dan menggambarkan gejala hanya sebagai peta sehingga cenderung gambaran yang diperoleh tidak tepat atau tidak akurat baik perihal konsep-konsep maupun hubungan antarkonsep yang digambarkannya. Jenis model berdasarkan fungsinya dibagi atas tiga tipe (deskriptif,prediktif dan normatif), berdasar ciri strukturnya (ikonik, analog dan simbolik), berdasar ciri waktu (statik dan dinamik), berdasar ciri pasti-tidak pasti (deterministik,probabilistik, dan tipe permainan) berdasar ciri umum-khusus (umum dan khusus), serta model cara lain yakni (fisik, semantik, dan model interpretatif). Model bahasa cenderung bertipe simbolik sehingga lebih kearah abstrak, selain itu model bahasa juga cenderung memanfaatkan bukti-bukti isomorfomis sehingga memudahkan pengkaji bahasa untuk memanipulasi variabel-variabel serta merevisi model itu sendiri. Dalam ilmu sosiolinguistik kajian bahasa cenderung mengarah pada perangkat tingkah lau oleh karena itu, Samsuri mengidentifikasi kartekteristik model dengan tiga kategori dasar yakni definisi bahasa, semestaan bahasa dan tingkat-tingkat keilmubahasaan. Model tradisional berkembang pada saat fisofof Yunani kuno. Menurut mereka, bahasa adalah tanda pikiran dan gagasaan, sedangkan kemestaan bahasa tidak terstruktur pada zaman ini, semua gagasan tentang bahasa haruslah taat pada azaz dan menyesuaikan diri dengan apa saja yang terdapat dalam bahasa Yunani kuno tersebut. Tingkat-tingkat keilmubahasaan terbatas pada tulisan, morfologi dan sintaksis. Model struktural berkembang karena adanya buku karangan Ferdinand de Saussure. Model ini menganggap bahasa adalah sebagai suatu lambang yang arbriter yang dipakai untuk menyatakan pikiran, perasaan dan keinginan untuk berinteraksi dan berkooperasi. Model transformasi menganggap bahasa adalah susunan unsur-unsur yang terbatas jumlahnya yang penyusunannya diatur oleh kaidah-kaidah yang terbatas pula jumlahnya, menjadi kalimat-kalimat yang secara teoritis dan praktis terbatas jumlahnya.

Model teori informasi digagas oleh Shanon dimana ia menjelaskan mengenai adanya repertoire (gangguan) bahasa dalam proses komunikasi. Selanjutnya ia membagi repertoire itu menjadi repertoire umum (linguistik) dan individual (nonlinguistik). Model Antropologis mengkaji hubungan antara bahasa dengan kebudayaan. Sapir menangkap bahwa dunia nyata dalam banyak hal memang dibentuk secara tidak sadar oleh kebiasaan bahasa yang ada dalam suatu kelompok tersebut. Selanjutnya Sapir menjelaskan bahwa bahasa adalah metode mengkomunikasikan gagasan-gagasan, emosi serta keinginan yang bersifat manusiawi murni dan non-instingtif dengan menggunakan sistem simbol-simbol yang dihasilkan secara sukarela. Pada model sosialogis dijelaskan bahwa struktur sosial, peran dan kode hadir bersama-sama dalam peristiwa komunikasi yang dapat berubah baik sesuai dengan masyarakatnya, interaksi sosialnya, maupun linguistiknya. Sedangkan model psikologis lebih mengacu mengenai tingkah laku individu di dalam atau di antara struktur-struktur sosial serta pada saat individu itu menjadi partisipan proses sosial. Beberapa temuan model fungsional diantaranya model Bright, kekomplekan pengembangan model ini menuntut kreativitas untuk mengisi karakteristik identitas pembicara, mitra tutur dan latar peristiwa tutur. Model Brown dan Gilman ini dipakai untuk mengkaji kata ganti kedua dalam sekelompok bahasa di Eropa. Latar belakang yang sebagai penghubung dari penggunaan kedua kata ganti tersebut ialah hubungan kekuasaan dan keakraban. Keduanya bersumber dari realitas psikososial yang terdapat dalam suatu masyarakat. Model Ervin-Tripp menerapkan kaidah alternasi (pemilihan variasi atau bentuk bahasa dalam bertutur), kaidah kookurensi (kaidah yang mengatur pemakaian variasi bentuk bahasa), dan kaidah sekuensi (kaidah urutan yang mengatur giliran bertutur dalam suatu peristiwa tutur tertentu). Hymes menganggap adanya komponen tutur yang mempengaruhi peristiwa tutur yakni setting, paticipants, end, act sequences, keys, intrumentalities, norms dan genre. Model SPEAKING ini berguna untuk memerikan gejala-gejala bahasa seperti alih kode, interferensi, undausuk, gejala bilingualisme. Model Fishman lebih fokus terhadap lingkungan , lingkungan diartikan sebagai konteks institusional. Penggunaan bahasa yang sesuai dengan mkkonteks institusional disebut kongruen, sedangkjan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan konteks institusional disebut inkongruen. Kontruk sosial dapat diabstraksikan dari berbagai konteks yakni topik, hubungan antarpenutur-mitratutur dan lokasi. Model Bernstein menggambarkan hubungan antara tatanan simbolik khususnya sistem tutur, dengan struktur sosial pada anak-anak kelas pekerja dan anak-anak kelas menengah. Selanjutnya Bernstein membedakan antara tutur terbatas dengan tutur terjabar. Sifat tutur terbatas cenderung tertutup, sehingga anak-anak dapat mengekspresikan ide dengan mengandalkan pada unsur suprasegmental seperti intonasi, metafora dan paralingua, sedangkan tutur terjabar lebih terbuka. Pengambilan keputusan keluarga berorientasi pada posisi dan pribadi. Sedangkan cara pengontrolannya dapat berupa modus perintah atau modus himbauan.

Searching