Minggu, 28 Juni 2009

STUDI BAHASA DALAM ABAD XIX

Kemunculan berbagai teori dalam ilmu linguistik mengakibatkan banyaknya variasi aliran linguistik itu sendiri. Dalam kajian ini lebih ditekankan pada abad ke XIX. Para-para ahli bahasa saling berebut dalam pengungkapan argumennya. Nantinya dapat akan terdapat suatu peta konsep baru yang dapat menambah wawasan atau pengetahuan kita mengenai kajian linguistik pada abad ke XIX.

Dalam keluarga bahasa Indo-Eropa terdapat dua tokoh yang sangat berperan di wilayah tersebut. Friederich Von Schlegel mengatakan Tata bahasa komparatif akan memberikan kepada kita informasi yang baru sama sekali tentang asal mua bahasa-bahasa, sama benar seperti cara antonomi komparatif menjelaskan ilmu hewan. Sedangkan August Wilhelm von Schlegel lebih condong dalam menganalisis suti filologi sansekerta.

Di kawasan Jermania terdapat dua bahasa yang sama-sama kuat yaitu Gothia dan Skandinavia. Akhirnya oleh Grimm dicetuskan sebuah teori yang diberi nama Deutch Grammatik. Deutch Grammatik berupa uraian komparatif tentang semua bahasa Jermania, khususnya bentuk-bentuk kuno bahasa itu. Didalamnya dinyatakan, bahasa Gothia memegang peranan. Teori ini terjadi akibat pengaruh pergeseran konsonan.

Kelompok bahasa Slavonia dibagi menjadi 4 bagian Timur :Rusia, Rusia kecil; Selatan : Bulgaria, serbo-kroasia, Slovenia; Barat : Slovakia dan Czech, sorbia, dan Polandia dengan bahasa Kashubia & Slovintia. Dan Polandia. Tokoh-tokoh yang berperan dalam kajian linguistik di wilayah ini ialah Joseph Dobrovsky membangkitkan sastra Bohemia, F. Miklosich lebih cenderung menganalisis tata bahasa komperatif bahasa Slavonia, August Schleicher mentranskrip system fonetik yang ajeg dan August Leksien memberikan uraian yang paling baik tentang bahasa literer Slavonia yang murni. Sedangkan kelompok bahasa Keltia dibagi menjadi 3 bagian yaitu Gaelia, Britonia dan Gaelia. Untuk penemuan ilmiahnya dipelopori Johann Kaspar Zeuss dengan mempelajari dan membandingkan bahasa Britonia kuno dengan bahasa-bahasa Keltia.

Lithuania, Albania dan Armenia merupakan bagian dari kelompok Indo-Eropa yang lain. Friederich Kurschat yang mempelajari aksen bahasa Lithuania. De Sausurre sendiri menjelaskan masalah intonasi dan aksen menunjukkan bahwa ada hubungan bahsa Baltik dan Slovania Keduanya merupakan tokoh yang peduli terhadap wilayah Lithuania. Di Albania terdapat tiga tokoh yang dapat didedikasikan menjadi bapak linguistic di wilayah tersebut, tiga tokoh tersebut yaitu Sami bey Frasheri menciptakan abjad Albania dengan 36 huruf, Schleicher menyimpulkan bahwa bahasa itu termasuk bahasa Indo-Eropa dan Gustav Meyer memisahkan kata asli Albania dari kata pungutan dalam sebuah kamus etimologi. Pada daerah Armenia hanya Henrich Hubschmann yang terkenal melalui pemisahan kata pungutan dari kata asli

Untuk kelompok non Indo-Eropa terdapat beberapa bagian diantaranya sekitar Eropa meliputi Finladia barat, Lap, Mordvinia, Cheremis, Permia, Ugria dan Magyar. Asia (Yakut dan Turki). Afrika, Baska, Dravida, Austro-Asia dan Tibeto-Cina. Dalam masing-masing wilayah terdapat tokoh yang mendeskripsikan teorinya.

Mengapa terdapat pembagian wilayah dalam studi ini? Karena Meillet sebelumnya telah mempunyai pertanda kebimbangan akan kepercayaan mereka pada keajegan yang membuta tentang perubahan bunyi dank arena itu mengalami gangguan dalam kemungkinannya untuk mengadakan rekonstruksi bahasa. Hal ini tidak berhenti disini saja, kegejolakan lain kembali muncul, salah satunya yang terdashyat yaitu gagasan Schmidt yang menolak teori pohon silsilah, ia lebih senang menggunakan teorinya sendiri yang diberi nama teori gelombang. Nama teori gelombang itu sendiri diambilnya karena bahasa dipakai secara berdampingan pada daerah tertentu dan mendapat pengaruh perubahan yang dimulai pada suatu ketika, perubahan itu meluas layaknya gelombang. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembagian wilayah disini untuk lebih mudah dalam suatu pembelajaran dan menguatkan aliran yang dipakai bahasa tersebut.

Tidak ada komentar:

Searching