Jumat, 30 Januari 2009

TOPIK WACANA PERCAKAPAN

1) Pengertian topik
 Topic merupakan salah satu unsure yang penting dalam wacana percakapan. Menurut Howe opik itu merupakan syarat erbebtuknya wacana percakapan.
Contoh : A = “Selamat pagi!”
B = “Selamat pagi!”
Contoh diatas bukan merupakn wacana percakapan karena keduanya merupakan awal terjadinya percakapan.

 Istilah topic wacana (selanjutnya disebut topic) sering dikacaukan dengan konsep topik dalam tata kalimat. Pada pembahasan ini, keduanya dibedakan secara tegas, dalam tata kalimat topik mempunyai kaitan dengan struktur kalimat secara fungsional. Bahkan topic merupakan suatu deskripsi struktur kalimat. Selain itu dalam konteks wacana topik merupakan suatu ide atau hal yang dibicarakan dan dikembangkan sehingga membentuk sebuah wacana.

 Menurut Brow dan Yule, untuk menganalisis topik wacana diperlukan setidak-tidaknya satu penggal wacana. Di dalam peristiwa percakapan itu, peserta berusaha mengembangkan topiknya masing-masing. Contohnya :
(Nina, 3;3 dan Rama, 2;3 sedang belajar menggambar)
Nina : “Dik Lama (RAMA) nggak punya mobin (MOBIL) ya!”
Rama : “Punya, punya sepeda moton (MOTOR) (sambil tertawa)”
Rama : “Ini (sambil menunjukkan gambar) punyaku bagus.”
Pada contoh di atas tampak bahwa kedua peserta percakapan itu mepunyai topic yang berbeda. Keduanya terlibat dalm suatu peristiwa percakapan, tetapi keduanya mempunyai toik yang berbeda. Pada penggalan perckapan di atas, topik yang dibicarakan oleh pembicara pertama adalah mobil sedangkan pembicara kedua membicarakan sepeda motor. Dengan demikian, jelas bahwa topik yang dibicarakan dalam percakapan dapat lebih dari satu topk mekipun dalam sebuah peristiwa percakapan.

 Menurut Richards da Schmidt, pemilihan topik yang dibicarakan dalam sebuah percakapan lebih lanjut mempunyai kaitan erat dengan koherensi wacana. Topik yang sesuai dengan topik sebelumnya merupakan salah satu upaya untuk menciptakan koherensi wacana.

 Topic berbeda dengan judul dan tema. Judul mengacu pada suatu nama atau identitas sebuah wacana. Judul sebuah wacana kadang-kadang tidak mencerminkan isi yang terkandung dalam wacana tersebut.

 Topic dapat menjadi bagian dari tema dan juga bagian dari judul, namun perbedaan tema dan topik tidak dapat dijelskan secara tegas. Keduanya dapat berimpitan dan tidak mempunyai batas.

(2) Topik wacana percakapan
 Pemilihan topic yang dikembangkan dalam percakapan dalam dipengaruh oleh norma / budaya yang berlaku dalam masyarakat. Selain ditentukan oleh norma / budaya, topic percakapan yng dipilih juga ditentukan oleh faktor situasional. Situasi yang terjadi di sekitar terjadinya percakapan itu mempunyai peranan penting dalam pemilihan topic. Oleh karena itu, seorang analis harus memperhatikan hal-hal disekitar peristiwa percakapan (konteks) dan koteks (Brown dan Yule).

 Berdasarkan acuan yang dirujuknya, topic percakapan dibedakan atas :
a) Topic lama dan baru
• Dalam percakapan para penutur biasanya memperhatikan masalah urutan lama-baru tersebut. Informasi atau topik yang telah dibicarakan merupakan topik yang dikeompokkan sebagai lama.
• Dalam percakapan sehari-hari, berdasarkan penelitian Keenan dan Schieffelin, pendengar menuntut agar pembicara dalam percakapan menggunakan pola urtan topik lama-baru. Hal itu sangat penting untuk mebentuk praduga (presupposition).
• Untuk mengetahui apakah pendengar telah memahami atau belum, pembicara dapat mengetahuinya dengan berbagai macam cara, misalnya dengan melihat tanggapan pendengar (contohnya sebagai tanda belum dapat memahami pendengar mengucapkan uh, tidak, atau menggeleng kepala). Biasanya untuk memancing tanggapan yang positif dari pendengar, sebelum memulai percakapan, seorang pembicara dapat menggunakan pertanyaan sebagai penunda pancingan, seperti pertanyaan : “Apakah kau ingat?” dan sebagainya (Keenan dan Schieffelin).

b) Topic nyata
Merupakan topik yang referensinya seperti yang dirujuk dengan kata-kata yang digunakan dalam ujaran. Topik nyata itu seperti contoh berikut ini :
Ayah : “Bapak pergi dulu.”
Anak : “Rani suka dipangku.”
Ayah : “Sebentar saja. Bapak segera pulang.”
Anak : “Sekarang musim gelang yang ada namanya.”
Ayah : “Biar Bapak yang beli.”
Anak : “Rani bisa nulis Pak.”
Ayah : “Bagus, tapi bapak saja yang beli.”
Pada contoh di atas merupakan pertukaran yang membicarakan topik yang dibicarakan adalah gelang yang ada namanya.

 Berdasarkn referensi, topic nyata itu dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu :
1) Topik yang referensinya ditunjuk
Topic ini membicarakan tentang hal-hal yang ditunjuk dan merupakan bahan atau topik pembicaraan yan menarik. Contoh :
Konteks : Guru TK yang menunjukkan gambar pemandangan alam
kepada siswanya.
Guru : “Ini gambar apa, anak-anak?”
Siswa : “Pohon!”
Guru : “Siapa yang membuat?”
Siswa : “Gusti Allah.”
Topik yang dibicarakan pada penggalan percakapan di atas adalah gambar pohon. Topic itu referensinya berupa barang / hal yang ditunjuk dengan jari.

2) Topik yang referensinya dipegang
Pada saat melakukan percakapan, hal-hal yang dipegang sering diangkat menjadi pokok pembicaraan dalam percakapan. Contohnya :
Al : “Pak Al mengantar suarat dulu, ya?”
El : “Ke mana pak?”
Al : “Ke Pusat, ke FS, terus ke Fakultas lain.”
El : “Sekarang?”
Al : “Sekarang ke Pusat dulu terus kembali lagi.”
Pada percakapan itu topiknya adalah surat yang akan diantarkan oleh pak Al. dengan demikian, topic yang mereka percakapan mempunyai referensi yang dipegang.

3) Topik yang referensinya dilihat, tetapi tidak ditunjuk dan tidak dipegang benda-benda yang dilihat sering diangkat menjadi pokok pembicaraan. Hal-hal yang dilihat pada umumnya dapat menarik untuk dipercakapkan. Contohnya :
Konteks : Seseorang menawarkan barang baru kepada temannya.
Duta : “Ada antioksidan jenis baru yang efektif, Pak Fahri.”
Fahri : “Kita mungkin nggak bisa bayar, lagi krisis.”
Duta : “Lah, soal bayarkan bisa dirunding.”
Fahri : “Tidak begitu, lah wong RS ini nggak punya duit.”
Referensi topik yang dibicarakan pada contoh di atas adalah antioksidan jenis baru yang diketahui oleh Duta yang coba ditawarkan kepada Fahri.

4) Topik yang referensinya didengar
Hal-hal yang didengar juga erupakan bahan pokok pembicaraan yang menarik. Contoh :
Konteks : Mendengar bunyi tokek pada malam hari waktu menjelang tidur.
Anak : “Itu suara apa, Bu?”
Ibu : “Itu tokek. Cept tidur!”
Anak : “Nggigit nggak, Bu?”
Ibu : “Ndak.”
Topik yang dibicarakan adalah tokek yang suaranya terdengar dari dalam kamar. Topic itu muncul karena suara tokek tersebut terdengar oleh mereka. Dengan demikian, topic yang dibicarakan itu bermula dari suara tokek yang didengar.

5) Topic yang referensinya berupa kegiatan atau tindakan.
Kegiatan yang hendak, sedang, dan telah dilakukan dapat diangkat menjadi topic pembicaraan. Contohnya :
Konteks : Maria dan Aisya memetik gitar.
Maria : ”Kamu saja yang nyanyi!”
Aisya : (menyanyi Ayat-ayat Cinta) “Sudah, kamu, ayo nyanyi.”
Maria : “Emoh.”
Pada contoh di atas merupakan topik yang berupa tindakan yaitu menyanyi.

 Pada penjalasan di atas merupakan referensi yang nyata. Selain itu juga dibedakan referensi atau topik yang tak nyata yaitu:
a) Topik imajinasi
Topik ini merupakan topik pembicaraan sebagai hasil rekaan sehingga seolah-olah menjadi benar-benar ada. Topik tersebut pada dasarnya merupakan hasil peniruan dari kenyataan yang telah diketahui / dialami. Contoh:
Konteks : Anak-anak bermain kereta api mainan.
Diva : “Semuanya minggir! Nanti ketabrak, lho!”
Rama : “Minggir! Minggir! Situ ada lho, hitam-hitam!”
Yang dibicarakan pada contoh di atas yaitu naik kereta api-kereta apian. Topic yang dibicarakan itu hanya merupakan hasil pengolahan imajinatif, sehingga seolah-olah mereka naik kereta api sungguhan.

b) Topic tidak berkelanjutan
Topic Ini merupakan topik yang hanya dibicarkan dalam 2 ujaran.
Contoh
Konteks : Seorang anak yang sedang meminta-minta kepada seorang ibu.
Anak : “Bu, nyuwun paring!” (sambil menjulurkan tangannya)
Ibu : “Kecil-kecil sudah minta-minta. Prei dulu, sedang ada tamu.”
Dalam contoh tersebut, pertukara hanya belangsung dalam satu alih tutur. Namun topik dalam contoh di atas hanya bisa dibicarakan dalam 2 ujaran, dengan demikian topik yang dibicarakan di atas tergolong topik tidak berkelanjutan.

c) Topik berkelanjutan
Topik ini merupakan topik yang cukup banyak dikemukakan dalam percakapan sehari-hari. Topik berkelanjutan itu dikembalikan lebih dari 2 ujaran.
Contoh 1 :
Konteks : Melihat gambar Candi Prambanan di kalender.
Nita : “Ini mana?”
Nurul : “Candi Prambanan.”
Nita : “Papanya pernah ke sini, dulu Mbak Ni kecil pernah ke sini.”
Nurul : “Ini Candi kecil.” (sambil menunjuk gambar)
Nita : “Ini Candi besar.” (menunjuk candi yang besar
Nurul : “Candi Borobudur mana?”
Nita : “Disobek Om Ivan.”
Dari cntoh di atas mempunyai topic yang berkaitan erat. Pertukaran itu mengandung pokok pembicaraan yang berkenaan dengan candi. Meskipun mempunyai topic yang berbeda namun kedua pertukaran itu terikat oleh satu pokok pembicaraan yang umum. Sehingga topic tersebut disebut topic wacana bergabungan (incorporating discourse topic)
Contoh 2 :
Adik : “Kakak nanti malam tidur di mana?”
Kakak : (diam tidak menanggapi)
Adik : “Di hotel ya? Aku sudah besar ya, kak? Bisa tidur sendiri
kok.”
Kakak : “kan hanya semalam saja kakak tidur di hotel.”
Topiknya hanya satu yaitu tidur di hotel, yang dibicarakan dalam beberapa ujaran.

Tidak ada komentar:

Searching